AALI
10850
ABBA
73
ABDA
6950
ABMM
745
ACES
1565
ACST
358
ACST-R
0
ADES
1680
ADHI
1320
ADMF
8450
ADMG
174
ADRO
1180
AGAR
418
AGII
1270
AGRO
1215
AGRO-R
0
AGRS
805
AHAP
61
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
302
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
492
AKRA
3400
AKSI
765
ALDO
440
ALKA
238
ALMI
250
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2021/03/05 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.51
-0.71%
-3.59
IHSG
6258.75
-0.51%
-32.05
LQ45
941.36
-0.75%
-7.11
HSI
29098.29
-0.47%
-138.50
N225
28864.32
-0.23%
-65.79
NYSE
14959.41
-1.58%
-239.78
Kurs
HKD/IDR 1,843
USD/IDR 14,300
Emas
778,890 / gram

Tingkatkan Perdagangan, RI Sambut Joint Working Group Minyak Nabati Uni Eropa-ASEAN

MARKET NEWS
Shifa Nurhaliza
Jum'at, 15 Januari 2021 13:30 WIB
Di tengah pandemi Covid-19 dan upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, perdagangan minyak nabati, terutama ekspor kelapa sawit ke luar negeri
Tingkatkan Perdagangan, RI Sambut Joint Working Group Minyak Nabati Uni Eropa-ASEAN. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Indonesia tekankan bahwa upaya untuk mencapai target-target Sustainable Development Goals (SDGs) memerlukan kerja sama yang erat antar negara-negara pada seminar daring "Keberkelanjutan Minyak Nabati: Peluang untuk Peningkatan Perdagangan Dua Arah" (14/01/2021).

Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia siap melakukan dialog dengan seluruh mitra, baik di tingkat regional maupun global. Di tengah pandemi Covid-19 dan upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, perdagangan minyak nabati, terutama ekspor kelapa sawit ke luar negeri, menjadi semakin penting bagi Pemerintah dan masyarakat Indonesia.

"Indonesia berkomitmen untuk penuhi ke-17 target SDGs 2030 dan telah berhasil mencapai perkembangan yang signifikan. Dalam hal ini, Indonesia menolak perlakuan diskriminatif yang dikaitkan dengan isu keberlanjutan terhadap produk kelapa sawit Indonesia, di tengah upaya kita untuk meningkatkan standar yang lebih ketat," ujar Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar, dalam keterangan resminya, Jumay (15/1/2021).

Kegiatan webinar ini diselenggarakan oleh KBRI Stockholm dalam rangka mendorong diskusi seputar topik keberkelanjutan minyak nabati serta dilatarbelakangi kesepakatan antara negara-negara anggota Uni Eropa (UE) dan ASEAN dalam meningkatkan hubungan dari Kemitraan Dialog menjadi Kemitraan Strategis, serta pembentukan Joint Working Group on Vegetable Oil pada Pertemuan Tingkat Menteri UE-ASEAN ke-23.

"Komitmen dari kedua belah pihak untuk bentuk sebuah Joint Working Group mengindikasikan adanya kesamaan visi untuk menyelesaikan tantangan dan isu-isu lingkungan hidup di sektor minyak nabati dalam perspektif yang lebih obyektif dan non-diskriminatif," ujar Duta Besar Indonesia untuk Swedia, Kamapradipta Isnomo.

Dalam paparan dan diskusi dijelaskan, antara lain tahapan transisi perekonomian menuju bioekonomi, pangsa pasar penggunaan tanaman minyak, potensi energi yang dihasilkan dari sisa tanaman pertanian, serta peluang pengembangan biorefinery guna menangkap potensi sumber daya nabati secara utuh.

Sejatinya, kelapa sawit dan produk turunannya merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang diekspor ke Swedia. Dalam 3 tahun terakhir nilai impor kelapa sawit Swedia dari Indonesia terus meningkat, dari USD14,5 juta pada 2017 menjadi USD32,3 juta pada di 2019. (*)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD