Menurut Abdul Azis, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan bisnis-bisnis baru tersebut menghasilkan kinerja keuangan yang lebih baik.
“Setelah revenue mix berubah, tahap berikutnya adalah monetisasi. Investor akan melihat apakah energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah mampu meningkatkan skala, memperbaiki margin, dan pada akhirnya memberikan kontribusi laba yang lebih besar,” katanya.
ESI menempatkan margin impact dan risk reduction sebagai dua tahapan lanjutan setelah perubahan bauran pendapatan.
Dengan demikian, peningkatan kontribusi bisnis non-batu bara belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa risiko bisnis TBS telah berkurang atau profitabilitas telah membaik.
Dalam laporannya, ESI menilai tantangan industri batu bara Indonesia semakin bersifat struktural, selain tetap menghadapi faktor siklikal.