Risiko tersebut antara lain berasal dari konsentrasi pasar ekspor, dominasi cadangan batu bara berkalori rendah, perubahan daya saing harga, perubahan permintaan dari negara tujuan ekspor utama, serta perkembangan energi terbarukan.
Dalam konteks tersebut, diversifikasi menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan perusahaan batu bara untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis inti.
ESI menilai perusahaan perlu mengombinasikan strategi defensif dengan menjaga arus kas dari bisnis batu bara dan strategi ofensif melalui pengembangan sumber pendapatan di luar batu bara.
“Kalau kontribusi non-coal terus meningkat dan mulai diikuti perbaikan margin, transformasi TBS akan semakin lengkap. Pada titik itu, diversifikasi tidak hanya terlihat dari perubahan revenue mix, tetapi juga dari kualitas laba dan kemampuan perusahaan mengurangi risiko bisnis batu bara,” ujar Abdul Azis. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.