Bisnis tersebut berkembang dari kapasitas penambangan sekitar 5.000 ton batu bara per bulan hingga memiliki alat berat sendiri dan menangani proyek-proyek pertambangan berskala lebih besar.
Pada 2003, Jhonlin mulai menambang di lahan PT Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Ekspansi kemudian berlanjut ke sejumlah wilayah dan proyek pertambangan lainnya.
Dari bisnis tambang, Jhonlin memperluas sayap ke sektor pelayaran melalui Jhonlin Marine yang mengoperasikan kapal tongkang pengangkut batu bara. Grup tersebut juga masuk ke bisnis properti serta transportasi udara melalui Jhonlin Air Transport.
Ekspansi ke sektor alat berat kembali terlihat pada Juni 2024. Jhonlin Group menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan alat berat asal China, SANY Group, untuk pengadaan 2.000 unit ekskavator guna mendukung proyek pertanian yang digarap grup.
Jika transaksi BYAN nantinya selesai, langkah tersebut akan menambah satu aset besar lagi ke dalam gurita bisnis Haji Isam sekaligus memperkuat keterlibatannya di industri batu bara nasional. (Aldo Fernando)