Selain itu, Indo Premier juga menyoroti lonjakan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dinilai semakin menekan biaya dana (cost of fund) perbankan sekaligus membatasi pertumbuhan kredit.
Nilai outstanding SRBI meningkat menjadi sekitar Rp1.100 triliun pada Juli 2026, melonjak dari Rp350 triliun pada Januari 2024 dan Rp731 triliun pada akhir 2025.
Sementara itu, imbal hasil SRBI mencapai sekitar 7,64 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata biaya dana empat bank terbesar yang hanya sekitar 2,5 persen maupun suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 5,75 persen.
Menurut analis, tingginya imbal hasil SRBI menjadikannya sebagai acuan baru di pasar sehingga mendorong kenaikan imbal hasil tenor pendek, meningkatkan biaya dana perbankan, sekaligus mengurangi insentif bank untuk menyalurkan kredit karena penempatan dana di SRBI menjadi lebih menarik.
Di sisi lain, porsi kredit kepada pihak berelasi juga terus meningkat. Pada 2023, kredit jenis ini hanya sekitar 12,7 persen dari total kredit, kemudian naik menjadi 18,5 persen pada akhir 2025 dan mencapai 19,1 persen pada kuartal I-2026.