Kepemilikan investor asing juga telah turun ke level terendah dalam delapan tahun, yakni sekitar 48 persen, dibandingkan puncaknya sebesar 63 persen pada Maret 2024.
Meski demikian, Indo Premier menilai belum ada katalis yang cukup kuat untuk mendorong rerating saham-saham perbankan.
“Valuasi dan posisi pasar sudah cukup mendukung, tetapi sektor ini masih kekurangan katalis untuk mendorong rerating,” tulis analis Indo Premier.
Bahkan, tekanan likuiditas yang berlanjut dan potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), berisiko semakin menekan margin dan kualitas aset.
Dalam kondisi tersebut, Indo Premier tetap memilih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebagai saham unggulan karena memiliki posisi likuiditas yang lebih kuat, pendekatan yang lebih konservatif terhadap kualitas aset, serta kepemilikan asing yang relatif lebih ringan dibandingkan emiten perbankan lainnya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.