"Iran tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium atau membuat rudal balistik setelah 20 hari perang," kata Netanyahu dalam konferensi pers.
Seperti diketahui, Indeks utama di Wall Street merosot pada sesi sebelumnya, menyusul serangan terhadap ladang gas South Pars, bagian Iran dari cadangan gas alam terbesar di dunia.
Teheran pun merespons dengan menargetkan lokasi di fasilitas gas di Qatar dan Arab Saudi, karena pertempuran antara Iran dan pasukan gabungan AS dan Israel disinyalir akan meningkat menjadi konflik regional yang lebih luas.
“Harga energi tetap menjadi katalis utama bagi pelemahan pasar saham. Serangan Israel dan Iran kemarin terhadap infrastruktur energi merupakan eskalasi perang di Timur Tengah,” kata Michael O’Rourke, Kepala Strategi Pasar di Jones Trading, kepada Investing.com.
“Kenaikan harga minyak mentah Brent terkait dengan spekulasi bahwa AS mungkin akan menerapkan kontrol ekspor energi. Dengan demikian, WTI turun sementara Brent naik. Kemudian dilaporkan bahwa tidak akan ada kontrol ekspor dan selisih antara kedua jenis minyak tersebut,” katanya. Sebelumnya pada hari Kamis, selisih antara kedua minyak tersebut mencapai level tertinggi dalam 11 tahun.