IDXChannel - Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada Kamis (26/3/2026) setelah sempat naik di sesi sebelumnya. Investor masih berhati-hati terhadap perkembangan di Timur Tengah sambil mempertimbangkan kemungkinan meredanya konflik.
Melansir Investing, Dow Jones Industrial Average turun 250,43 poin (0,54 persen) menjadi 46.179,06. S&P 500 turun 56,82 poin (0,86 persen) menjadi 6.535,08. Nasdaq Composite turun 262,81 poin (1,20 persen) menjadi 21.667,02.
Presiden Amerika Serikat (AS) AS Donald Trump mengatakan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran dan mendesak Teheran agar “serius” dalam bernegosiasi.
Kantor berita Tasnim News Agency melaporkan bahwa Iran telah secara resmi menanggapi proposal 15 poin dari Amerika Serikat, mengutip sumber yang mengetahui hal tersebut. Namun, Iran sebelumnya membantah adanya negosiasi dengan AS.
Sinyal yang saling bertentangan dari kedua pihak membuat pasar gelisah, karena harapan untuk memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz masih belum pasti.
“Banyak informasi berbeda yang keluar, dan pasar mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kami terus memantau harga minyak. Kami masih agak berhati-hati karena beberapa skenario terburuk tidak baik bagi ekonomi global,” kata Analis investasi utama di GuideStone,
Jack Herr.
Saham teknologi menjadi penekan utama, dengan indeks teknologi S&P 500 turun 1,3 persen. Saham produsen chip memori mengalami penurunan, termasuk Micron Technology, SanDisk, Western Digital yang turun antara 3,3 persen hingga 4,8 persen.
Saham Meta Platforms dan Alphabet masing-masing turun 3,2 persen dan 2 persen sehingga menekan indeks layanan komunikasi. Sementara itu, indeks semikonduktor Philadelphia juga turun hampir 2 persen.
Organisasi OECD memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah mengganggu jalur pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya lebih kuat. Penutupan Selat Hormuz berpotensi mendorong inflasi naik tajam.
Bank sentral kini berada dalam posisi sulit terkait suku bunga, karena pelaku pasar tidak lagi memperkirakan adanya pelonggaran dari Federal Reserve tahun ini. Sebelumnya, dua kali penurunan suku bunga sempat diperkirakan terjadi sebelum konflik Iran memanas, menurut alat FedWatch dari CME Group.
(NIA DEVIYANA)