IDXChannel - Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Senin (9/2/2026), setelah saham-saham teknologi tertekan sepekan terakhir akibat kekhawatiran disrupsi kecerdasan buatan (AI). Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).
Pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 67,9 poin atau 0,14 persen ke level 50.047,79. Indeks S&P 500 melemah 15 poin atau 0,22 persen ke 6.917,26, sementara Nasdaq Composite turun 79 poin atau 0,34 persen ke 22.952,24.
Sebelumnya, S&P 500 dan Nasdaq sempat rebound pada Jumat setelah tiga sesi beruntun melemah, seiring meningkatnya perhatian investor terhadap strategi AI emiten teknologi besar yang disertai lonjakan belanja modal.
Sejumlah laporan kinerja emiten berkapitalisasi besar kembali memicu kekhawatiran pasar terkait agresivitas belanja tahun ini. Perusahaan-perusahaan raksasa yang tergabung dalam kelompok “Magnificent Seven” seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft diperkirakan menggelontorkan belanja sekitar USD650 miliar demi mendominasi persaingan AI.
Saham-saham sektor perangkat lunak yang pekan lalu tertekan akibat kekhawatiran margin tergerus oleh persaingan AI, cenderung bergerak stabil pada perdagangan prapasar Senin.
“Setelah pekan lalu berjalan sangat fluktuatif, rebound yang terjadi pada Jumat belum terlihat sebagai awal pembalikan tren yang berkelanjutan. Jadi saya tidak terkejut melihat kontrak berjangka kembali turun pagi ini,” ujar Analis Pasar Senior Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya dikutip dari Reuters.
Dari sisi data ekonomi, perhatian investor pekan ini tertuju pada laporan nonfarm payrolls Januari yang dijadwalkan rilis Rabu, serta indeks harga konsumen (CPI) Januari pada Jumat. Kedua data tersebut dinilai krusial dalam menentukan waktu pemangkasan suku bunga The Fed.
Pasar saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama tahun ini terjadi pada Juni, berdasarkan CME Group FedWatch Tool. Momentum tersebut berpotensi bertepatan dengan pergantian pucuk pimpinan The Fed.
Sementara itu, saham Eli Lilly menguat sekitar 2 persen setelah perusahaan telehealth Hims & Hers membatalkan peluncuran pil penurun berat badan seharga USD49. Sebaliknya, saham Hims & Hers anjlok 20 persen usai digugat Novo Nordisk terkait dugaan pelanggaran paten.
Dari musim laporan keuangan, sekitar 77 persen dari 293 emiten S&P 500 yang telah merilis kinerja kuartalan berhasil melampaui ekspektasi analis, di atas rata-rata jangka panjang sebesar 67 persen.
(Rahmat Fiansyah)