Kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi akibat perang telah mendorong imbal hasil obligasi naik secara global. Hal ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia dan menekan harga saham serta berbagai aset lainnya.
Kondisi ini juga telah membuat rata-rata suku bunga hipotek jangka panjang di AS mencapai level tertinggi sejak musim panas lalu, dan bisa membatasi kemampuan perusahaan untuk meminjam dana guna membangun pusat data AI yang selama ini mendukung pertumbuhan ekonomi AS.
Imbal hasil obligasi sedikit turun pada Jumat, sehingga mengurangi tekanan terhadap pasar saham.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,54 persen dari 4,57 persen pada Kamis, meskipun masih jauh di atas level 3,97 persen sebelum perang dimulai.
(NIA DEVIYANA)