Kenaikan harga minyak mentah AS di atas USD87 per barel semakin memperkuat kekhawatiran terhadap kondisi konsumen AS. Kepala Strategi Investasi Edward Jones, Mona Mahajan, mengatakan investor kini khawatir setelah data penjualan ritel dan pasar tenaga kerja Juli yang lebih lemah dari perkiraan.
“Ada pertanyaan mengenai seberapa kuat konsumen dapat bertahan di tengah harga bensin dan tekanan inflasi yang masih tinggi,” kata Mahajan.
Mahajan juga menyoroti tekanan kenaikan imbal hasil obligasi terhadap saham. Indeks-indeks Wall Street menguat pada Rabu setelah Departemen Keuangan AS mengatakan akan membeli kembali obligasi dengan nilai lebih dari dua kali lipat perkiraan sebelumnya dalam upaya memperlambat kenaikan yield. Namun, yield kembali melanjutkan tren kenaikannya.
“Ada beberapa hambatan yang dihadapi pasar ketika dibuka hari ini. Salah satunya adalah kembali naiknya yield obligasi di sepanjang kurva, meskipun kemarin Departemen Keuangan AS mengambil langkah tersebut. Kenaikan itu dengan sangat cepat berbalik, hanya dalam waktu 24 jam,” ujar Mahajan.
Indeks sektor energi S&P 500 naik 0,4 persen seiring harga minyak menguat untuk sesi kelima berturut-turut akibat terhentinya perundingan damai AS-Iran dan gangguan pasokan di Timur Tengah. Sektor real estat menjadi satu-satunya sektor lain yang menguat, naik 0,15 persen.