sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Tutup Pekan di Zona Merah, Laba Intel Jadi Pemberat

Market news editor Desi Angriani
23/01/2026 22:09 WIB
Sentimen investor tertekan setelah kinerja keuangan Intel mengecewakan pasar, sekaligus mematahkan upaya rebound di pertengahan pekan.
Wall Street Tutup Pekan di Zona Merah, Laba Intel Jadi Pemberat (Foto: dok AP)
Wall Street Tutup Pekan di Zona Merah, Laba Intel Jadi Pemberat (Foto: dok AP)

IDXChannel - Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Jumat (23/1/2026) waktu setempat, mengakhiri pekan yang bergejolak dengan nada negatif. 

Sentimen investor tertekan setelah kinerja keuangan Intel mengecewakan pasar, sekaligus mematahkan upaya rebound yang sempat terbentuk di pertengahan pekan.

Mengutip Investing, indeks Dow Jones Industrial Average turun 275 poin atau 0,6 persen. Sementara itu, S&P 500 melemah 0,2 persen dan NASDAQ Composite terkoreksi tipis 0,1 persen.

Meski sempat mencatat penguatan pada dua hari perdagangan sebelumnya, tiga indeks utama Wall Street tetap berada di jalur penurunan mingguan untuk pekan kedua berturut-turut.

Optimisme pasar sempat membaik di paruh kedua pekan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tercapainya kerangka kesepakatan dagang terkait Greenland.
Trump juga memastikan pemerintahannya tidak akan memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa untuk menekan Denmark menyerahkan wilayah tersebut.

Langkah tersebut, termasuk pencabutan ancaman penggunaan kekuatan militer, memberikan kelegaan bagi pasar setelah sebelumnya retorika Trump memicu ketegangan geopolitik global dan tekanan besar di Wall Street.

Namun demikian, ketidakpastian belum sepenuhnya mereda. Hubungan AS dengan sejumlah negara Eropa masih diliputi ketegangan, sementara Trump kembali menambah risiko geopolitik dengan mengisyaratkan potensi aksi militer terhadap Iran.

"Kami memiliki armada yang bergerak ke arah sana, dan mungkin tidak perlu digunakan," ujar Trump kepada wartawan.

Dari sisi korporasi, saham Intel menjadi pemberat utama pasar. Emiten chip raksasa itu anjlok setelah melaporkan kerugian pada kuartal IV serta memberikan proyeksi suram untuk kuartal berjalan.

Intel membukukan rugi bersih sebesar USD333 juta pada tiga bulan terakhir tahun fiskalnya, lebih buruk dari ekspektasi analis. Kinerja ini mengecewakan investor, terlebih di tengah optimisme terhadap industri kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menopang saham teknologi.

Manajemen Intel mengungkapkan, lonjakan permintaan dari pusat data yang menjadi tulang punggung pengembangan AI—justru diiringi masalah pasokan. CFO Intel David Zinsner menyebut kekurangan pasokan chip sebagai persoalan industri yang berpotensi berlanjut hingga 2026.

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada musim laporan keuangan lanjutan dari raksasa teknologi seperti Apple, Microsoft, Amazon, dan Tesla.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement