AALI
9650
ABBA
226
ABDA
0
ABMM
2370
ACES
790
ACST
168
ACST-R
0
ADES
7275
ADHI
820
ADMF
8075
ADMG
176
ADRO
2950
AGAR
324
AGII
2090
AGRO
725
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1055
AKSI
294
ALDO
835
ALKA
298
ALMI
292
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/06/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.61
-0.34%
-1.85
IHSG
6996.46
-0.28%
-19.60
LQ45
1007.64
-0.31%
-3.10
HSI
22418.97
0.85%
+189.45
N225
27049.47
0.66%
+178.20
NYSE
0.00
-100%
-14811.55
Kurs
HKD/IDR 1,888
USD/IDR 14,835
Emas
871,303 / gram

Terlanjur Nyaman, 66 Persen Karyawan Indonesia Ogah WFO

MILENOMIC
Tangguh Yudha/MPI
Selasa, 24 Mei 2022 21:30 WIB
Laporan Work Trend Index Microsoft menyebut bahwa mayoritas pekerja di Indonesia ogah untuk kembali bekerja di kantor (WFO) secara penuh.
Terlanjur Nyaman, 66 Persen Karyawan Indonesia Ogah WFO
Terlanjur Nyaman, 66 Persen Karyawan Indonesia Ogah WFO

IDXChannel - Pandemi Covid-19 sudah mulai menjinak. Namun laporan Work Trend Index Microsoft menyebut bahwa mayoritas pekerja di Indonesia ogah untuk kembali bekerja di kantor (WFO) secara penuh.

Dikatakan sebanyak 66% pekerja di Indonesia lebih mempertimbangkan untuk beralih ke kerja remote atau hybrid. Mereka berpedapat bahwa pekerjaan yang fleksibel bukan berarti harus selalu standby.

"Dua tahun terakhir telah mengubah cara kita memaknai pekerjaan dalam kehidupan secara signifikan," ujar Wahjudi Purnama, Modern Work & Security Business Group Lead Microsoft Indonesia, Selasa (24/5/2022).

"Maka dari itu, tantangan bagi setiap organisasi adalah untuk bisa memenuhi ekspektasi para karyawan, sambil menyeimbangkannya dengan pencapaian bisnis di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu,” tambahnya.

Menurut survei yang dilakukan Microsoft kepada 31.000 peserta di 31 negara termasuk Indonesia, saat ini para karyawan memiliki pandangan baru terhadap apa yang dianggap ‘worth it.

Berdasarkan survei, sebanyak 48% karyawan di Indonesia mengatakan mereka cenderung lebih memprioritaskan kesehatan dan wellbeing dibandingkan pekerjaan, daripada sebelum pandemi.

Pemimpin perlu membuat kantor terasa ‘worth to commute’. Sebanyak 41% karyawan hybrid di Indonesia mengatakan tantangan terbesar mereka adalah mengetahui kapan dan mengapa mereka harus datang ke kantor.

Sementara hanya 40% pemimpin telah membuat kesepakatan tim untuk mendefinisikan norma-norma baru ini.

Di sisi lain, sebanyak 62% karyawan di Indonesia terbuka untuk menggunakan ruang imersif digital sebagai sarana meeting, lebih tinggi dibandingkan data global yang ada di angka 52%.

Membangun kembali social capital terlihat berbeda di dunia hybrid. Sebanyak 49% pemimpin di Indonesia mengatakan membangun hubungan adalah tantangan terbesar dalam era kerja hybrid.

Selain itu, 65% pekerja pandemi di Indonesia sedang mempertimbangkan untuk berganti perusahaan pada tahun depan, dibandingkan 56% secara global.

"Tidak ada cara untuk bisa melupakan apa yang kita alami selama dua tahun terakhir, atau dampaknya terhadap hidup kita, karena fleksibilitas dan wellbeing telah menjadi hal yang tidak bisa kita kompromikan," lanjut Wahjudi.

"Dengan menyambut dan beradaptasi terhadap ekspektasi baru tersebut, organisasi justru dapat menyiapkan setiap karyawan dan bisnisnya untuk meraih kesuksesan jangka panjang,” pungkasnya.

Untuk mendukung dan meningkatkan pengalaman kerja secara hybrid, Microsoft memiliki berbagai inovasi produk seperti Microsoft Teams, yang telah digunakan oleh lebih dari 270 juta pengguna untuk kerja hybrid, Microsoft 365, dan Windows 11.

(NDA) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD