Gempa utama tersebut juga memicu tsunami di sejumlah wilayah. Berdasarkan hasil observasi stasiun pasang surut, tsunami terpantau di 16 lokasi pada empat provinsi, yakni NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB dengan ketinggian 1,605 meter. Sementara tsunami terendah tercatat di Bakalang, Alor, NTT, pada pukul 05.41 WIB dengan ketinggian 0,14 meter.
Pada saat gempa utama terjadi, BMKG juga telah mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami. Peringatan Dini 1 dikirimkan dua menit 16 detik setelah gempa dengan status ancaman Siaga untuk potensi tsunami 0,5–3 meter dan Waspada untuk potensi tsunami di bawah 0,5 meter.
Peringatan Dini Tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB atau sekitar 2 jam 31 menit setelah gempa.
Seiring masih tingginya aktivitas gempa susulan, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada, khususnya terhadap bangunan yang telah mengalami kerusakan akibat gempa utama maupun gempa susulan.
Masyarakat diminta tidak memasuki atau beraktivitas di dalam bangunan yang mengalami retak atau kerusakan karena berpotensi membahayakan apabila kembali terjadi guncangan.
BMKG juga terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan dan dampaknya di wilayah terdampak.
Tim gabungan BMKG dari pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) telah diterjunkan untuk melakukan survei gempa merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, pemantauan gempa susulan, hingga verifikasi dampak tsunami di lapangan.