Kihara menolak untuk berkomentar tentang kemungkinan dampak pada industri Jepang, dengan mengatakan masih belum jelas barang apa saja yang akan ditargetkan.
Menurut surat kabar China Daily milik penguasa, Beijing sedang mempertimbangkan untuk lebih memperketat ekspor logam tanah jarang ke Jepang. Media itu mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Langkah seperti itu dapat memiliki implikasi yang luas bagi industri manufaktur Jepang, termasuk sektor otomotif.
Jepang telah berupaya untuk mendiversifikasi pasokan logam tanah jarang sejak China terakhir kali membatasi ekspor mineral tersebut pada 2010, tetapi masih bergantung pada China untuk sekitar 60 persen kebutuhan.
"Pembatasan ekspor logam tanah jarang dari China selama tiga bulan, serupa dengan sengketa pada 2010, dapat merugikan bisnis Jepang sebesar 660 miliar yen dan mengurangi produk domestik bruto tahunan sebesar 0,11 persen," kata Ekonom Nomura Research Institute, Takahide Kiuchi dalam sebuah catatan.