IDXChannel - Setidaknya empat kapal melintasi Selat Hormuz setelah mereka dikabarkan mendapatkan izin dari Iran.
Dilansir dari GCaptain pada Selasa (17/3/2026), lalu lintas kapal di Selat Hormuz lumpuh sejak awal bulan ini akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Menurut konsultan risiko maritim EOS Risk Group, beberapa kapal yang berhasil meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari ke belakang.
Namun, mereka menggunakan rute yang tidak biasa. Keempat kapal tersebut berlayar di antara pulau Larak dan Qeshm di Iran.
Kepala Penasihat EOS Risk Group Martin Kelly mengatakan, rute tidak biasa tersebut mengindikasikan bahwa Iran memverifikasi keempat kapal terlebih dahulu sebelum mengizinkan mereka meninggalkan Teluk.
Dalam keadaan normal, kapal-kapal yang keluar dari Teluk biasanya melewati sisi selatan Selat Hormuz yang lebih dekat dengan Oman daripada sisi utara yang dikendalikan Iran
“Kita mungkin sedang menyaksikan dimulainya proses verifikasi oleh Iran di mana kapal harus disetujui untuk transit melalui Selat Hormuz dengan singgah di antara Larak dan Qeshm,” kata Kelly.
Salah satu kapal yang melintasi Selat Hormuz melalui rute tidak biasa itu ialah kapal tanker Aframax berbendera Pakistan, Karachi, yang membawa minyak mentah Das dari Abu Dhabi.
Menurut data pelacakan MarineTraffic, kapal tanker sepanjang 237 meter itu memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Iran pada 15 Maret pukul 11:33 UTC, melintasi selat pada pukul 14:43 UTC, dan kemudian muncul di Teluk Oman dengan kecepatan sekitar 9,6 knot.
Pelayaran tersebut menarik perhatian karena kapal tersebut terus-menerus memancarkan sinyal AIS selama pelayaran, menjadikannya kapal tanker kargo non-Iran pertama yang menyeberangi Selat Hormuz dengan AIS aktif sejak perang pecah.
“Kapal tersebut berlayar di antara Larak dan Qeshm, yang jelas bukan rute yang disarankan jika mencoba keluar dari Teluk tanpa izin,” kata Kelly.
Selain Karachi, sejumlah kapal lainnya menggunakan koridor yang sama untuk melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal pengangkut curah Anthea berbendera Kepulauan Marshall, kapal Lacon berbendera Liberia, dan kapal Kamran berbendera Panama.
Setiap kapal tampaknya berbelok ke utara menuju pulau-pulau Iran sebelum berbelok ke selatan lagi dan melanjutkan perjalanan ke Teluk Oman.
“Empat kapal ini sudah cukup untuk menunjukkan tren,” kata Kelly.
“Kapal-kapal mendapatkan persetujuan untuk keluar dari Teluk melalui saluran Larak-Qeshm, kemungkinan untuk verifikasi kepemilikan, tujuan, dan muatan," katanya.
Meskipun ada beberapa kapal yang berhasil melintas, aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz secara keseluruhan tetap turun tajam.
Banyak kapal tanker masih tak berani melewati Selat Hormuz. Pasalnya, premi asuransi risiko perang melonjak dan pemilik kapal enggan mengambil risiko di zona konflik. (Wahyu Dwi Anggoro)