Pengaturan yang dimaksud akan berkaitan dengan jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, pengawasan terhadap lalu lintas kapal, serta menjamin dan menangani dampak lingkungan akibat besarnya jumlah kapal yang melintas.
Kantor berita Iran, NourNews, juga mengutip pernyataan Fazli bahwa “pertimbangan khusus” akan diberikan kepada China dan negara-negara sahabat lainnya dalam menentukan besaran maupun jenis biaya layanan yang dikenakan kepada kapal-kapal yang melintasi jalur perairan tersebut.
Pada masa damai, sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz. Jalur ini sempat nyaris ditutup oleh Iran selama perang yang dimulai pada akhir Februari, sehingga memicu lonjakan harga energi global.
Pada April, Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan selatan Iran sebagai upaya menekan ekspor minyak Iran.
Fazli menegaskan bahwa Selat Hormuz kini telah menjadi isu keamanan selama empat bulan pascaperang Amerika Serikat dan Iran.