IDXChannel - Sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat (AS), HRANA, pada Minggu (11/1/2026) mengumumkan telah memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan akibat aksi protes yang berujung kerusuhan di Iran.
Selain itu, HRANA mencatat lebih dari 10.600 orang ditangkap dalam dua minggu kerusuhan. Iran belum memberikan angka resmi dan Reuters tidak dapat memverifikasi angka tersebut secara independen.
Sementara itu, pimpinan Iran di Teheran mengancam akan menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump melaksanakan ancamannya untuk campur tangan atas nama para demonstran.
Dengan rezim Republik Islam menghadapi demonstrasi terbesar sejak 2022, Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika kekerasan digunakan terhadap para demonstran.
Trump akan diberi pengarahan oleh para pejabatnya pada Selasa tentang opsi-opsi terkait Iran termasuk serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi, dan pemberian bantuan daring kepada sumber-sumber anti-pemerintah, kata Wall Street Journal pada Minggu.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Washington agar tidak melakukan kesalahan perhitungan.
"Mari kita perjelas: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita," kata mantan komandan Garda Revolusi elit Iran, Qalibaf.