Kondisi ini memungkinkan penerapan sistem zonasi yang murni, di mana setiap anak otomatis mendapatkan sekolah terbaik di dekat tempat tinggalnya tanpa perlu memperebutkan "sekolah favorit" yang lokasinya jauh.
Selain masalah biaya, Tito menekankan bahwa digitalisasi di Singapura menutup celah praktik pungutan liar atau suap dalam penerimaan siswa baru. Ia menyindir praktik oknum di birokrasi bawah yang kerap bermain mata dalam proses pendaftaran sekolah secara manual.
"Nah, itu saya ingin gambarkan mengenai digitalisasi government. Ngantar anak sekolah nggak perlu datangin ke dinas pendidikan, dikerjain lagi sambil bisik-bisik lagi yang eselon bawah itu kan ngedip-ngedip, "Ada nggak kamunya? Ada nggak kamu?", maksudnya apa? Amplop tuh," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)