Untuk harga minyak dan inflasi, kata Ferry, eskalasi konflik berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, terutama jika mengganggu jalur distribusi energi global. Sebagai negara yang masih mengimpor energi, Indonesia rentan terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan biaya transportasi dan logistik.
Dia menerangkan, inflasi yang meningkat dapat mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bagi sektor properti, suku bunga merupakan variabel kunci karena mayoritas pembelian rumah kelas menengah masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
"Kenaikan suku bunga akan langsung memengaruhi keterjangkauan cicilan dan daya beli," katanya.
Terkait nilai tukar rupiah, ketidakpastian global sering memicu aliran dana keluar (capital outflow) menuju aset safe haven seperti emas, dolar AS, obligasi, dan lainnya, sehingga berpotensi melemahkan rupiah. Pelemahan kurs meningkatkan biaya material impor seperti elevator, façade system, HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning), serta komponen teknis gedung bertingkat lainnya yang sifatnya high-tech.