Sehingga, kata Ferry, proyek high-rise menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dibanding rumah tapak. Sebab, proporsi material impornya relatif lebih besar.
"Hal ini berpotensi menekan margin pengembang atau mendorong penyesuaian harga jual," ujarnya.
Dia menuturkan, jika pelemahan rupiah cukup tajam dan permintaan pasar melambat, pengembang cenderung menunda peluncuran proyek baru. Fokus biasanya dialihkan pada penjualan stok yang ada serta penyesuaian spesifikasi untuk mengendalikan biaya.
Namun, proyek yang telah memasuki tahap konstruksi umumnya tetap berjalan demi menjaga arus kas dan kredibilitas perusahaan.
Selain itu, properti adalah sektor yang sangat dipengaruhi persepsi jangka panjang. Dalam kondisi ketidakpastian, pasar biasanya memasuki fase wait-and-see.
"Investor menunda ekspansi, sementara konsumen menunda pembelian," ujar Ferry.
(Dhera Arizona)