sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Menilik Dampak Perang AS vs Iran terhadap Pasar Properti Indonesia

News editor Dhera Arizona Pratiwi
08/03/2026 19:07 WIB
Konflik di Timur Tengah secara langsung tidak serta-merta menghentikan transaksi rumah atau apartemen di Indonesia.
Menilik Dampak Perang AS vs Iran terhadap Pasar Properti Indonesia. (Foto Istimewa)
Menilik Dampak Perang AS vs Iran terhadap Pasar Properti Indonesia. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran kembali meningkatkan risiko geopolitik global. Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, termasuk dampaknya terhadap sektor properti Indonesia.

Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, konflik di Timur Tengah secara langsung tidak serta-merta menghentikan transaksi rumah atau apartemen di Indonesia. Namun, sektor properti sangat sensitif terhadap stabilitas makroekonomi dan sentimen jangka panjang.

"Karena itu, dampaknya lebih bersifat tidak langsung, melalui beberapa jalur transmisi ekonomi," ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (8/3/2026).

Ada empat jalur transmisi ekonomi yang wajib dicermati dan memberikan dampak tidak langsung terhadap sektor properti yakni harga minyak dan inflasi, nilai tukar rupiah, biaya konstruksi dan ekspansi proyek, serta sentimen dan perilaku investor.

Untuk harga minyak dan inflasi, kata Ferry, eskalasi konflik berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, terutama jika mengganggu jalur distribusi energi global. Sebagai negara yang masih mengimpor energi, Indonesia rentan terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan biaya transportasi dan logistik.

Dia menerangkan, inflasi yang meningkat dapat mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bagi sektor properti, suku bunga merupakan variabel kunci karena mayoritas pembelian rumah kelas menengah masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

"Kenaikan suku bunga akan langsung memengaruhi keterjangkauan cicilan dan daya beli," katanya.

Terkait nilai tukar rupiah, ketidakpastian global sering memicu aliran dana keluar (capital outflow) menuju aset safe haven seperti emas, dolar AS, obligasi, dan lainnya, sehingga berpotensi melemahkan rupiah. Pelemahan kurs meningkatkan biaya material impor seperti elevator, façade system, HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning), serta komponen teknis gedung bertingkat lainnya yang sifatnya high-tech.

Sehingga, kata Ferry, proyek high-rise menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dibanding rumah tapak. Sebab, proporsi material impornya relatif lebih besar.

"Hal ini berpotensi menekan margin pengembang atau mendorong penyesuaian harga jual," ujarnya.

Dia menuturkan, jika pelemahan rupiah cukup tajam dan permintaan pasar melambat, pengembang cenderung menunda peluncuran proyek baru. Fokus biasanya dialihkan pada penjualan stok yang ada serta penyesuaian spesifikasi untuk mengendalikan biaya.

Namun, proyek yang telah memasuki tahap konstruksi umumnya tetap berjalan demi menjaga arus kas dan kredibilitas perusahaan.

Selain itu, properti adalah sektor yang sangat dipengaruhi persepsi jangka panjang. Dalam kondisi ketidakpastian, pasar biasanya memasuki fase wait-and-see.

"Investor menunda ekspansi, sementara konsumen menunda pembelian," ujar Ferry.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement