Program ini mempertemukan kebutuhan tenaga kesehatan Jepang dengan potensi lulusan Indonesia. Jepang menghadapi peningkatan permintaan tenaga kesehatan akibat penuaan populasi.
Sementara itu Indonesia memiliki banyak lulusan diploma tiga keperawatan setiap tahun. Proyeksi menunjukkan surplus lulusan mencapai 176.000 orang hingga 2030. Peluang besar tersebut selama ini terhambat biaya migrasi tinggi. Karena itu skema low cost dirancang membuka akses kerja lebih luas.
Biaya migrasi selama ini yang mencapai puluhan juta rupiah per kandidat mencakup pelatihan bahasa, administrasi, dan perjalanan keberangkatan. Beban finansial tersebut membuat banyak lulusan gagal berangkat ke luar negeri.
Akibatnya, tingkat partisipasi pekerja Indonesia relatif rendah dibanding negara lain. Program baru ini berupaya menekan bahkan menghapus biaya tersebut. Pembiayaan dilakukan melalui kolaborasi dengan pengguna tenaga kerja di Jepang.
Melalui skema ini, pelatihan bahasa Jepang dilakukan secara intensif. Program berlangsung di Politeknik Kesehatan dan institusi pendidikan keperawatan mitra. Peserta ditargetkan mencapai kompetensi bahasa Jepang level N4 sebelum keberangkatan.