IDXChannel—International Air Transport Association (IATA) memperingatkan pelaku industri penerbangan bahwa pemulihan harga avtur memerlukan waktu berbulan-bulan sekalipun Selat Hormuz telah dibuka.
Pemulihan harga yang cukup lama ini disebabkan oleh kerusakan fasilitas pengolahan dan penyimpanan bahan bakar minyak di beberapa negara Timur Tengah akibat serangan udara selama perang Iran-AS berlangsung.
Melansir Reuters (8/4/2026), Direktur IATA Willie Walsh mengatakan meskipun dia memperkirakan harga minyak mentah menurun, harga avtur akan tetap naik karena kerusakan fasilitas penyulingan.
“Kalau (Selat Hormuz) dibuka dan tetap terbuka seterusnya, saya kira akan memerlukan waktu beberapa bulan sampai produksi avtur dapat kembali seperti sedia kala, mengingat kondisi beberapa fasilitas rusak di Timur Tengah,” tuturnya.
Dia juga mengatakan hambatan pasokan bahan bakar dunia yang terjadi saat ini tidak dapat dibandingkan dengan situasi pandemi Covid-19. Sebab saat pandemi, produksi menurun karena kapasitasnya memang diturunkan.
Menurut Walsh, situasi produksi minyak dunia saat ini lebih mirip dengan penurunan produksi pada 2008-2009, atau dengan situasi pasca-serangan 9/11.
“Saat Covid-19, kapasitas produksi menurun 95 persen karena perbatasan ditutup. Sekarang ini kondisinya tidak seperti itu. Pasca-9/11, pemulihan produksi memerlukan waktu sekitar empat bulan. Pada krisis 2008-2009, pemulihannya kira-kira 10-12 bulan,” katanya.
Sejak perang Iran-AS meletus, banyak maskapai penerbangan di Asia mengurangi frekuensi penerbangan seiring pasokan bahan bakar dunia yang kian tertekan dari hari ke hari. Industri penerbangan adalah salah satu yang cukup terdampak.
Harga avtur umumnya akan naik beriringan dengan kenaikan harga minyak mentah, tetapi kenaikan harga avtur ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga minyak mentah yang telah membengkak 50 persen sebelum gencatan senjata.
Lebih lanjut, Walsh mengatakan goncangan pada kapasitas penerbangan maskapai Timur Tengah bersifat sementara saja.
“Beberapa kapasitas penerbangan akan digantikan oleh maskapai di luar kawasan, tetapi tidak mungkin juga maskapai luar menggantikan keseluruhan kapasitas penerbangan semua maskapai Timur Tengah,” kata dia.
Dia berekspektasi negara-negara di Semenanjung Arab akan pulih dalam waktu cepat. Adapun terkait kapasitas produksi minyak, pembukaan Selat Hormuz pasti akan berdampak positif tak hanya bagi pasokan minyak mentah, tetapi juga bagi produk turunannya, termasuk avtur.
“Memang dibutuhkan waktu beberapa saat untuk fasilitas di luar wilayah beradaptasi dan meningkatkan produksinya,” jelasnya, merujuk pada negara-negara yang dapat meningkatkan kapasitas produksi turunan minyak (refined product).
Dia juga berharap China dan Korea Selatan melanjutkan ekspor produk-produk turunan minyak begitu arus pasokan minyak mentah kembali normal.
(Nadya Kurnia)