Marwan juga menyinggung tingginya risiko kelelahan jamaah saat pelaksanaan lempar jumrah di Jamarat. Menurutnya, fase tersebut selama ini menjadi salah satu periode dengan tingkat kelelahan dan risiko kesehatan tertinggi bagi jamaah haji. Karena itu, pemerintah diminta menyiapkan mitigasi maksimal.
“Jamaah biasanya sudah dalam kondisi sangat lelah ketika dari Mina menuju Jamarat lalu kembali lagi ke Mina. Ini harus benar-benar diantisipasi karena pada fase-fase seperti itu angka kematian pada tahun-tahun sebelumnya juga cukup tinggi,” tuturnya.
Dia mengaku mulai melihat adanya tanda-tanda kekurangsiapan, khususnya terkait penyediaan makanan cepat saji yang disebut baru disiapkan satu kali pada H-2 Armuzna. Padahal, pemberangkatan jamaah dilakukan dalam beberapa gelombang dari pagi hingga malam hari.
“Kalau yang berangkat siang atau malam, lalu mereka makan apa? Ini yang harus segera dicarikan jalan keluar karena pada fase itu restoran juga sudah banyak yang tutup,” tutur dia.
Meski demikian, Marwan tetap mengapresiasi pelaksanaan haji tahun ini yang dinilainya lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai pelayanan terhadap jamaah hingga saat ini berjalan cukup baik.