"Makanan halal, keuangan syariah, kosmetik, hingga halal lifestyle kini menjadi arus utama dunia, tantangan kita meski potensi besar, sinergi antar negara OKI, dalam pandangan intrablock masih perlu dioptimalkan," katanya.
Kementerian Agama, kata Nasaruddin, berkomitmen untuk mendukung pengembangan ekosistem ekonomi halal secara menyeluruh. Peran kementerian tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai penjaga nilai agar praktik ekonomi halal tetap kredibel dan sesuai prinsip syariah.
“Ekosistem ekonomi halal yang kuat hanya bisa terwujud jika seluruh elemen bergerak bersama. Pemerintah menyediakan regulasi yang mendukung, lembaga agama menjaga standar moral dan etika, dan sektor swasta menjadi penggerak investasi serta inovasi,” ujarnya.
Di sisi lain, dinamika global, termasuk ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah, dapat mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi halal. Karena itu, diperlukan strategi kolaboratif dan adaptif agar potensi besar sektor ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh negara-negara muslim, termasuk Indonesia.
"Kementerian agama berkomitmen penuh mendukung upaya ini, kami berperan sebagai penjaga nilai, sekaligus mitra dalam memastikan bahwa ekosistem halal kita tidak hanya berdaya saing global, tetapi tetap kredibel secara syariah," katanya.
(DESI ANGRIANI)