sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Komdigi Sebut AI Ubah Serangan Siber Jadi Lebih Masif, Imbau Masyarakat Waspada

Technology editor Achmad Al Fiqri
01/02/2026 10:57 WIB
Serangan siber berbasis AI resikonya tak lagi terbatas pada sistem besar, tetapi menyentuh rekening, identitas, dan perangkat pribadi.
Komdigi Sebut AI Ubah Serangan Siber Jadi Lebih Masif, Imbau Masyarakat Waspada. (Foto: MNC Media)
Komdigi Sebut AI Ubah Serangan Siber Jadi Lebih Masif, Imbau Masyarakat Waspada. (Foto: MNC Media)

IDXChannel— Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence, mengubah pola serangan siber menjadi lebih cepat dan masif. 

Dia mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadapancaman siber di era AI. Menurutnya serangan siber berbasis AI resikonya tak lagi terbatas pada sistem besar, tetapi menyentuh rekening, identitas, dan perangkat pribadi sehari-hari.

“Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Ada zero click attack. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja,” kata Nezar, dalam keterangannya dikutip, Minggu (1/2/2026).

Nezar menyebut, AI mengubah pola serangan siber menjadi jauh lebih cepat dan masif. Dengan otomatisasi, kata dia, pelaku kejahatan dapat memindai jutaan sistem dalam hitungan detik dan memilih target yang dianggap bernilai.

“Data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025 menunjukkan serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan. Ini sebabnya warga sering menjadi korban tanpa sadar,” ujarnya.

Dia menegaskan, ancaman tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar sisi emosional masyarakat. Salah satunya, pemanfaatan AI seperti wajah dan suara seseorang bisa dipalsukan secara meyakinkan.

“Sekarang wajah dan suara kita bisa ditiru. Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” kata Nezar.

Menurutnya, sistem perlindungan konvensional juga semakin rapuh. Dia menilai, perkembangan AI dan riset komputasi kuantum membuat kata sandi yang selama ini digunakan warga tidak lagi cukup aman.

“Password yang kita buat hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna. Dunia sedang bergerak ke era pasca kuantum,” ujarnya.

Nezar berkata, tidak ada ruang aman di dunia digital selama perangkat terhubung dengan jaringan lain. Menurutnya, ancaman dapat datang dari ponsel, aplikasi, hingga perangkat sederhana yang digunakan sehari-hari.

“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya.

Kendati demikian, Nezar menyampaikan, Kemkomdigi mendorong penerapan pendekatan security by design untuk nengantisipasi serangan siber. Ia berkata, keamanan harus dibangun sejak awal pengembangan sistem, bukan setelah terjadi kebocoran atau serangan.

“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ini soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” kata Nezar.

(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement