"Komdigi memastikan bahwa lelang frekuensi ini memberikan manfaat nyata dan merata bagi masyarakat. Ujungnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat di level akar rumput," katanya, Rabu (22/7/2026).
Sebagai bagian dari komitmen, pemenang seleksi diwajibkan menghadirkan layanan 4G di 538 desa dan kelurahan yang saat ini belum memiliki atau lemah sinyal, tersebar dari Sumatera hingag Papua.
“Kehadiran konektivitas tersebut akan membuka akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan, pemerintahan digital, dan peluang ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau,” kata Meutya.
Selain itu, pemenang seleksi harus dapat memenuhi penyediaan layanan 5G paling sedikit 51 persen cakupan per populasi nasional pada tahun kelima. Kecepatan rata-rata mobile broadband ditargetkan melompat secara bertahap menjadi 100 Mbps pada tahun 2029. Kombinasi pita 700 MHz (low-band) yang andal untuk menjangkau pelosok hingga ke dalam bangunan, dipadukan dengan pita 2,6 GHz (mid-band) sebagai kapasitas utama yang menopang keandalan layanan 5G, akan memastikan target kecepatan nasional tercapai.
Selain itu, Meutya memastikan negara akan memperoleh nilai ekonomi yang dimanfaatkan untuk pembangunan. Pengelolaan spektrum melalui mekanisme seleksi ini diproyeksikan bisa memeberikan potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp6 triliun pada tahap awal dan sekitar Rp29,9 triliun untuk 10 tahun ke depan.