Selain itu, BI memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah dan perluasan transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT).
Seperti dikemukakan sebelumnya, gejolak global mengakibatkan pelarian modal keluar dari emerging markets dan kuatnya dolar Amerika Serikat (AS), sehingga memberi tekanan yang besar pada pelemahan nilai tukar hampir semua negara, termasuk nilai tukar rupiah.
Di domestik, permintaan valas pada kuartal II-2026 meningkat cukup tinggi dipengaruhi oleh faktor musiman antara lain untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri.
Nilai tukar rupiah pada 19 Mei 2026 tercatat sebesar Rp17.700 per USD, atau melemah 2,20 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir April 2026.
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," kata Perry.
(Dhera Arizona)