Menurut analisis BTN, kebijakan moneter ketat ini merupakan respons terukur BI dalam membaca dinamika likuiditas domestik maupun eksternal. Otoritas moneter mendeteksi adanya risiko pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit), dipicu oleh membengkaknya kebutuhan devisa untuk impor pasokan energi serta siklus tahunan pembayaran dividen korporasi ke luar negeri.
Di sisi lain, Myrdal menilai langkah preventif ini sangat krusial untuk menjaga daya pikat aset keuangan domestik agar tetap kompetitif di mata para pengelola dana global.
Meskipun arus modal asing mulai merangkak masuk ke pasar surat utang dan saham Tanah Air, BI memilih tidak berspekulasi dan tetap mempertebal kepercayaan pasar. Salah satu bukti efektivitas instrumen BI tecermin dari tingginya animo investor pada lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang sukses menyerap dana sekitar Rp43 triliun dengan imbal hasil (yield) di atas 7 persen.
Untuk pergerakan instrumen jangka pendek, BTN memproyeksikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek masih akan bertahan di atas 7 persen, sedangkan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun diperkirakan bergerak dinamis di kisaran 6,87 persen hingga 7,41 persen.
Melihat prospek ke depan, BTN memprediksi ruang bagi bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sudah semakin sempit. Jika harga minyak mentah dunia merosot stabil dan tekanan pasar global mereda, BI diperkirakan bakal mempertahankan posisi suku bunga di level 5,75 persen hingga penutupan 2026.