“Ruang penyesuaian BI-Rate diperkirakan semakin terbatas dan akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi domestik, harga energi global, serta dinamika arus modal internasional. Selama tekanan eksternal mulai mereda dan harga minyak dunia tetap terkendali, kami memperkirakan BI-Rate berpotensi dipertahankan pada level 5,75 persen hingga akhir tahun,” ujar Myrdal.
Menggunakan basis asumsi kebijakan moneter tersebut, Myrdal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berada di zona kuat pada angka 5,17 persen dengan tingkat inflasi yang terkendali di level 3,09 persen.
Kendati demikian, pengetatan moneter ini diprediksi akan berdampak pada fungsi intermediasi perbankan. Pertumbuhan kredit nasional diperkirakan berjalan lebih moderat dengan laju di bawah 9 persen.
Meski melambat, sejumlah sektor strategis diproyeksikan tetap bergerak ekspansif menjadi motor penggerak pembiayaan, antara lain sektor ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, industri makanan dan minuman, energi, industri besi dan baja, kelapa sawit, serta sektor properti residensial.
(Febrina Ratna Iskana)