"Di perusahaan ini, selanjutnya adalah aspek efisiensi, di antaranya seperti expense ratio dan likuiditas. Selain itu, kecukupan premi yang untuk meng-cover pembayaran klaim dan biaya umum. Dan terakhir itu adalah solvabilitas. Jadi, angka RBC yang juga harus dijaga, seperti itu," tambah Praska.
Praska menegaskan bahwa restrukturisasi alokasi portofolio kini menjadi langkah strategis di tengah ketidakpastian pasar yang semakin tinggi. Hal ini mencakup antisipasi terhadap kondisi geopolitik global yang sering kali berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional.
"Yang paling penting khususnya pada bagian ini, bahasa. Restrukturisasi alokasi portofolio ini kan menjadi hal yang cukup strategis ya buat saya, ya. Karena melihat market yang semakin tidak pasti ini, khususnya memang di market Indonesia saja, ya. Sementara kalau secara geopolitik sepertinya masih dinamis. Misal selat hormuz yang isunya buka-tutup blokade," tegas Praska.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Emira E. Oepangat, menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan publik melalui transparansi kinerja perusahaan. Emira menjelaskan bahwa tingkat solvabilitas (RBC) yang sehat adalah parameter utama yang dilihat nasabah sebelum memutuskan untuk berasuransi.
"Ya, kalau dari kami, bagaimana para anggota ini mendapatkan trust dari nasabahnya maupun dari masyarakat. Dan sepertinya, acara ini salah satu menjadi sarana. Karena dengan adanya acara seperti ini, masyarakat jadi tahu, misal 'the RBC is good'. Misal kinerja perusahaannya bagaimana? Karena itu semua sangat tergantung sama perusahaannya kalau 'trust' itu," jelas Emira.