Emira menekankan pentingnya literasi perlindungan bagi masyarakat yang kini cenderung bergeser pada pola keluarga inti. Menurutnya, industri perlu memformulasikan mekanisme perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan modern agar asuransi tidak lagi dianggap sebagai opsi kesekian.
"Yang kedua, edukasi dan literasi. Jadi memang, edukasi dan literasi ini harus sangat terus digema-gemakan. Karena apa? Dari kecil kita yang dikasih tahu itu menabung. Menabung pakai celengan ayam. Dari SD, diajari tiap minggu nabung 100 perak. Enggak pernah itu zaman dulu diajari proteksi. Iya, kan? 'Ayo beli asuransi"," lanjut Emira.
Emira menambahkan soal tantangan ke depan adalah bagaimana industri dapat menjawab kebutuhan dana darurat yang sebelumnya tertumpu pada kerabat keluarga besar. Formulasi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi industri asuransi jiwa di tengah pergeseran struktur sosial masyarakat.
"Jadi, unsur proteksi itu bagaimana memasyarakatkan, memasyarakatkannya itu masih PR. Karena budaya masyarakat kita juga bergeser. Dari yang tadinya extended family, semua bisa pinjam kerabatnya, jual kambing kalau sakit, itu di zaman dulu. Sekarang udah enggak bisa. Kalau ada apa-apa, ya bergantung sama inti family, ayah, ibu, anak," tutur Emira.
Sementara itu, industri asuransi umum sedang berada dalam fase adaptasi untuk memperkuat daya tahan. Wakil Ketua Umum Bidang Kerjasama Antar Lembaga Hubungan Internasional Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Muhammad Iqbal, menyatakan bahwa hadirnya lembaga penjamin polis menjadi sentimen positif yang akan memperkuat kepercayaan masyarakat.