"Ini sudah resiliency mode, ini kita dapat suntikan atau dapat obat baru. Beberapa waktu ke depan akan ada lembaga penjamin polis. Ya. Ini di saat resiliency mode, kita dapat tambahan booster supaya masyarakat lebih trust sama industri kita, i come on, i good. Karena ada yang jamin seperti di bank ada LPS, gitu ya," ungkap Iqbal.
Iqbal mengajak pelaku industri untuk bersikap jujur dan kooperatif dalam melakukan penjaminan risiko. Ia menekankan bahwa dalam mode ketahanan ini, semangat kolaborasi harus menjadi napas bagi perusahaan asuransi umum dalam menjaga ekosistem tetap sehat.
"Nah, kenapa jadi resiliensi padahal ada booster juga? Ya, situasi ekonominya tidak baik-baik saja. Jadi kita semua harus bergandengan tangan. Industri jujur sama dirinya saat underwrite bisnis. Kalau memang sanggup, ya sanggupi. Kalau tidak sanggup, ya gandeng yang perusahaan lain. Ya. Jangan sanggup sendiri tapi akhirnya mental sendiri. Jadi, resiliency mode di industri asuransi umum saat ini harus on dan kita harus sama-sama bergandengan," tambah Iqbal.
Iqbal juga menitiberatkan terkait ekosistem asuransi harus saling terhubung, mulai dari perbankan hingga manajer investasi. Baginya, komitmen inovasi dalam proteksi harus tetap berlanjut terlepas dari dinamika regulasi yang akan datang.
"Yang kedua, buat saya ekosistem kita harus sehat. Jadi kita tidak hanya bisa hidup dengan sesama kita, sesama perusahaan asuransi umum, tidak. Kita harus bisa hidup, bekerjasama dengan teman-teman di asuransi jiwa untuk kesehatan, saling bertukar informasi, misalnya," kata Iqbal.
(Febrina Ratna Iskana)