sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Obligasi Korporasi Baru 2 Persen PDB, OJK: Potensi Masih Besar

Banking editor Iqbal Dwi Purnama
13/04/2026 20:12 WIB
OJK mencatat rasio market cap obligasi korporasi di Indonesia baru 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Obligasi Korporasi Baru 2 Persen PDB, OJK: Potensi Masih Besar (Foto: iNews Media Group)
Obligasi Korporasi Baru 2 Persen PDB, OJK: Potensi Masih Besar (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio market cap obligasi korporasi di Indonesia baru 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap mengatakan, pasar surat utang di Indonesia masih punya potensi untuk dikembangkan. 

"Jika dibandingkan dengan negara lain, kedalaman pasar surat utang Indonesia masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan," ujarnya dalam acara SPPA Award 2025 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Senin (13/4/2026).

Eddy menilai, obligasi korporasi memiliki peran strategis sebagai alternatif pendanaan jangka panjang bagi dunia usaha, tanpa harus melakukan dilusi kepemilikan saham. Selain itu, keberadaan pasar obligasi yang dalam juga berkontribusi pada efisiensi alokasi modal dan stabilitas sistem keuangan.

"Bagi korporasi, obligasi memberikan alternatif pembiayaan yang memungkinkan ekspansi usaha tanpa harus mengurangi kepemilikan saham. Lebih dari itu, pasar surat utang juga berperan dalam mendorong efisiensi alokasi modal, yaitu dengan menyalurkan dana investor secara produktif kepada sektor-sektor yang membutuhkan," katanya.

Dari sisi kinerja, OJK mencatat penghimpunan dana melalui penawaran umum sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp274,8 triliun, dengan kontribusi obligasi korporasi mendominasi hingga 77 persen. 

Eddy menambahkan, pertumbuhan di pasar perdana perlu diimbangi dengan peningkatan likuiditas di pasar sekunder. Menurutnya, aktivitas perdagangan yang lebih aktif akan mendorong terbentuknya harga yang wajar serta meningkatkan kepercayaan investor.

"Perkembangan yang positif di pasar perdana juga perlu diimbangi dengan peningkatan duviditas di pasar sekundar. Karena itu upaya pendalaman pasar dan peningkatan aktivitas perdagangan tetap perlu terus kita perkuat bersama," katanya.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement