Untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan di tengah tekanan terhadap nilai tukar, BI mengoptimalkan tiga strategi operasional utama.
Pertama, meningkatkan intensitas intervensi di pasar valas guna memperkuat stabilisasi Rupiah melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Kedua, BI menyesuaikan struktur suku bunga instrumen moneter berbasis pasar sejalan dengan kenaikan BI-Rate agar tetap menarik aliran dana asing ke instrumen keuangan domestik.
Ketiga, BI menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan dengan memastikan pertumbuhan Uang Primer tetap di atas 10 persen atau tumbuh double digit, termasuk melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.
Meski kebijakan moneter diperketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menegaskan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi tetap dijaga melalui kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran yang pro-pertumbuhan.
Bank sentral mempertahankan kebijakan makroprudensial longgar untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif, sambil tetap memperhatikan stabilitas sistem keuangan.