AALI
8425
ABBA
540
ABDA
0
ABMM
1250
ACES
1310
ACST
246
ACST-R
0
ADES
2720
ADHI
885
ADMF
7675
ADMG
218
ADRO
1400
AGAR
368
AGII
1395
AGRO
2300
AGRO-R
0
AGRS
246
AHAP
68
AIMS
342
AIMS-W
0
AISA
204
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3990
AKSI
422
ALDO
715
ALKA
292
ALMI
238
ALTO
320
Market Watch
Last updated : 2021/09/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
458.78
1.26%
+5.72
IHSG
6108.27
0.78%
+47.51
LQ45
862.18
1.23%
+10.45
HSI
24221.54
0.51%
+122.40
N225
29639.40
-0.67%
-200.31
NYSE
16184.50
0.1%
+16.33
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,240
Emas
814,120 / gram

Ahli Biologi Molekuler Bantah GeNose Tak Efektif Deteksi Covid-19

ECONOMICS
Leonardus Kangsaputra
Selasa, 22 Juni 2021 15:31 WIB
Efektivitas GeNose banyak dipertanyakan ketika angka covid-19 melonjak di berbagai daerah. Namun, hal tersebut dinilai hanya bentuk opini semata.
Ahli Biologi Molekuler Bantah GeNose Tak Efektif Deteksi Covid-19 (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Efektivitas GeNose banyak dipertanyakan ketika angka covid-19 melonjak di berbagai daerah. Namun, hal tersebut dinilai hanya bentuk opini semata.

Pakar Biologi Molekuler, Ahmad Utomo angkat suara terkait keraguan akan efektivitas GeNose dalam mendeteksi covid-19.

Ia menilai GeNose kemungkinan bisa menjadi dalang  dari kenaikan kasus Covid-19 di Tanah Air, karena tidak bisa akurat dalam mendeteksi kasus positif bagi para pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi. Ia pun pemerintah untuk melakukan penghentian sementara terkait penggunaan GeNose. 

Hingga saat ini belum ada klarifikasi maupun pernyataan resmi dari pihak berwenang maupun terkait dengan GeNose. Menanggapi kasus ini, Influencer Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i pun memberikan tanggapannya terkait kasus GeNose di Tanah Air. 

“Jadi ini adalah opini publik, kejadian di publik yang tidak bisa kita elakkan apapun itu. Tidak hanya GeNose, PCR pun juga begitu. Ada 2.900 orang di luar negeri, di Indonesia PCR negatif tapi tapi nyatanya positif, setelah dikarantina 5 hari. Tapi bukan berarti PCR nya ngaco, tapi ada proses interpretasi yang harus dipahami orang dalam pemahaman ini,” terang dr. Fajri, saat diwawancarai, Selasa (22/6/2021). 

Lebih lanjut, dr. Fajri mengatakan bahwa dirinya membutuhkan data yang jelas dan lengkap untuk bisa menginterpretasikan kasus terkait GeNose. Kasus ini masih menunggu tanggapan dari regulator Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) atau mungkin lembaga lain yang lebih berwenang. 

“Kalau Pak Ahmad bilang GeNose harus di stop, ya itu opini beliau. Kalau saya, butuh data lebih lanjut untuk bisa menilai bagaimana sebenarnya. Selama tidak ada data dan klarifikasi bagaimana kita bisa menilai efikasi dan elemen yang terkait GeNose ini,” tuntasnya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD