AALI
9425
ABBA
276
ABDA
0
ABMM
2440
ACES
740
ACST
190
ACST-R
0
ADES
6150
ADHI
790
ADMF
8175
ADMG
174
ADRO
3190
AGAR
314
AGII
2300
AGRO
830
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
95
AIMS
280
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1575
AKRA
1190
AKSI
274
ALDO
755
ALKA
288
ALMI
298
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
538.68
-0.69%
-3.72
IHSG
7129.28
-0.43%
-31.11
LQ45
1012.04
-0.62%
-6.29
HSI
20175.62
0.46%
+93.19
N225
28546.98
2.62%
+727.65
NYSE
15602.93
0.32%
+50.23
Kurs
HKD/IDR 205
USD/IDR 14,795
Emas
850,422 / gram

Dituding Jadi Biang Keladi Kasus Covid-19, Bagaimana Nasib GeNose C19

ECONOMICS
Leonardus Kangsaputra
Selasa, 22 Juni 2021 14:45 WIB
Keberadaan GeNose C19, alat tes Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM), meraih sambutan dari publik.
Dituding Jadi Biang Keladi Kasus Covid-19, Bagaimana Nasib GeNose C19. (Foto: MNC Media)
Dituding Jadi Biang Keladi Kasus Covid-19, Bagaimana Nasib GeNose C19. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Keberadaan GeNose C19, alat tes Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM), meraih sambutan dari publik. Bahkan, pemerintah menetapkan alat tersebut sebagai syarat perjalanan di semua moda transportasi di samping Polymerasi Chain Reaction (PCR) dan tes antigen.

Meski demikian, belum lama ini Pakar Biologi Molekuler, Ahmad Utomo meminta pemerintah untuk melakukan penghentian sementara terkait penggunaan GeNose. Sebelumnya beredar kabar di media sosial dari para calon pelaku perjalanan moda transportasi yang lebih memilih menggunakan GeNose agar bisa mendapatkan hasil negatif Covid-19. 

Sebab sebagian pelaku perjalanan mendapatkan hasil negatif saat dites menggunakan GeNose. Padahal mereka dinyatakan positif saat melakukan pemeriksaan antigen. Kondisi tes yang tidak akurat inilah yang dinilai Utomo menjadi dalang dari kenaikan kasus Covid-19 di Tanah Air. 

Menanggapi hal tersebut, Influencer Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i menjelaskan bahwa tim peneliti wajib mengeluarkan klarifikasi terlebih dahulu mengenai masalah ini, jika memang ditemukan kejadian postpositive Covid-19. 

“Jadi harus diklarifikasi, sebab ini adalah opini dari Twitter. Kita butuh data klarifikasinya, apakah orangnya diwawancarai. Sebab kalau kita hanya mengetahui informasi yang sedikit-sedikit seperti ini, apalagi ditanya bagaimana? Ini tentu harus dikaji dan tidak bisa langsung menyimpulkan hanya dari 2-3 kalimat,” terang dr. Fajri saat diwawancari MNC Portal, Selasa (22/6/2021). 

Lebih lanjut dr. Fajri mengatakan kasus ini masih menunggu tanggapan dari regulator Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). Menurutnya, klarifikasi dan penjelasan dari lembaga yang berwenang atau pihak yang terkait dengan GeNose sangat penting untuk menjelaskan tentang penyebab utama kasus ini  

“Jika ada masalah pada vaksin, yang dimintai pertanggungjawaban adalah BPOM, nah kalau alat lembaganya apa dari pemerintah? Kalau tidak salah BPFK atau mungkin lembaga lain yang lebih berwenang. Setelah dievaluasi, lantas bagaimana perkembang kedepannya? Tidak aneh jika saat ini banyak pertanyaan. Sebab saat itu publik banyak bertanya tentang bagaimana alat ini bekerja? Bagaimana spesifikasinya secara detail dan lainnya?” tuntasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD