Meski begitu, Akbar menilai tantangan tersebut justru menjadi momentum untuk memperkuat daya saing industri nasional. Pria yang juga menjabat Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) itu mengibaratkan baja yang kuat lahir dari proses penempaan dalam panasnya api.
"Bukankah baja hanya akan menjadi baja yang kuat setelah ditempa berkali-kali di dalam api yang panas? Di balik tantangan itu Indonesia menyimpan potensi yang luar biasa, proyek infrastruktur yang terus bergerak, hilirisasi yang kian masif, dan geliat manufaktur adalah peluang emas yang menanti untuk kita petik," imbuhnya.
Akbar menyebut, proyek infrastruktur yang terus berjalan, program hilirisasi yang semakin masif, serta geliat sektor manufaktur menjadi peluang besar bagi industri baja nasional untuk tumbuh dan memperkuat posisi di pasar domestik.
Namun, dia mengingatkan bahwa peluang tersebut bisa terbuang sia-sia jika ekosistem industri baja tidak diperkuat. Tanpa fondasi yang kokoh, peningkatan permintaan baja justru berisiko dimanfaatkan oleh produk impor.
"Peluang itu akan sia-sia jika ekosistem kita rapuh. Tanpa fondasi yang pokok, peringatan permintaan baja, peningkatan permintaan baja hanya akan menjadi pintu masuk bagi produk luar," ujarnya.