AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Asosiasi Fintech Ungkap Alasan Warga Indonesia Jadi Market 'Seksi' bagi Pinjol

ECONOMICS
Iqbal Dwi Purnama
Minggu, 17 Oktober 2021 06:30 WIB
Sebagai negara yang memiliki populasi yang besar dengan tingkat literasi rendah membuat banyak masyarkat yang terjerat dalam pinjaman online.
Sebagai negara yang memiliki populasi yang besar dengan tingkat literasi rendah membuat banyak masyarkat yang terjerat dalam pinjaman online.(Foto: MNC Media)
Sebagai negara yang memiliki populasi yang besar dengan tingkat literasi rendah membuat banyak masyarkat yang terjerat dalam pinjaman online.(Foto: MNC Media)

IDXChannel - Sebagai negara yang memiliki populasi yang besar dengan tingkat literasi rendah membuat banyak masyarkat yang terjerat dalam pinjaman online.

Selain itu, menurut Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia, Ronald Y. Wijaya mengatakan pola hidup masyarakat yang konsumtif menjadikan Indonesia sebagai Market yang 'seksi' untuk dana dari luar masuk ke Indonesia, salah satunya penyedia pinjol ilegal.

"OJK atau regulator kita memang sudah memberikan beberapa macam inisiatif, bagaimana menekan angka konsumtif ini, salah satunya adalah fintech-fintech yang sudah berizin terdaftar harus memberikan pembiayaan yang digunakan untuk produktif," ujarnya dalam MNC Trijaya, Sabtu (16/10/2021).

Ronald mengatakan, saat ini total fintech yang menyalurkan dana ada 106 yang sudah legal. Meski demikian dirinya menyebut saat ini masih lebih banyak fintech yang ilegal saat ini.

"Hal tersebut mengartikan bahwa pinjol ilegal ada point plusnya, contoh kalau yang legal, bunga yang diberikan kepada masyarakat, kalau konvensional itu maksimal 0,8% perhari, kalau yang ilegal itu bisa sampai 6%," sambungnya.

Kemudian dari sisi bunganya, kalau yang legal, sesuai dengan apa yang diberikan, jadi bunga yang diberikan mentok sesuai dengan jumlah yang mereka salurkan.

"Kalau yang ilegal, itu bisa compunding, dan bisa berkali-kali lipat, angkanya cuma pinjam 16 juta, jadi 200 sekian juta," sambungnya.

Sehingga kalau dilihat dari praktiknya, Ronald menyebut, dari sisi keuntungan pinjol ilegal ini lebih menguntungkan dari yang legal.

Untuk itu menurutnya tak jarang ketika sebuah perusahaan fintech legal, yang kemudian memiliki beberapa cabang yang justru ilegal.

"Saya sempat membaca juga, ada sebuah perusahaan yang baru ditutup, ternyata punya akun banyak sekali, ada 13 kalau tidak salah, lucunya 10 ilegal, 3 legal, dari asosiasi hal ini menjadi pertanyaan," pungkasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD