- China Conch Venture Holding Limited (China)
China Conch Venture Holding Limited adalah perusahaan yang berasal dari Wuhu, Provinsi Anhui, China. Berdiri sejak 2013, perusahaan berfokus pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan infrastruktur.
Perusahaan ini sudah terdaftar di Bursa Efek Hong Kong dengan kode saham 0586, dan berafiliasi cukup erat dengan Grup Anhui Conch Group Co., Ltd., salah satu grup usaha ternama di China dalam industri material seperti bahan bangunan, semen, dan konstruksi.
Ada 5 bidang usaha utama yang digeluti perusahaan ini, yakni: 1) Waste-to-Energy (WtE) atau proyek limbah energi, 2) jasa logistik pelabuhan (port logistics services), 3) material bangunan baru (new building materials), 4) energi baru, dan 5) bidang investasi dan aset strategis.
China Conch Venture Holding Limited menjadikan bisnis WtE sebagai segmen utama. Termasuk solusi insinerasi limbah atau pembakaran limbah untuk mengubahnya menjadi energi, pengolahan limbah padat untuk menghasilkan energi panas dan listrik, dan produksi dan penjualan peralatan pembangki energi sisa panas.
China Conch Venture Holding Limited diketahui pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan di Indonesia. Salah satunya dengan PT Conch South Kalimantan Cement (PT CSKC), perusahaan yang juga bernaung di bawah Anhui Conch Group Co., Ltd. PT CSKC pernah mendapatkan anugerah sebagai ‘Wajib Pajak Besar’ dan memiliki kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal dan pemerintah di Kalimantan Selatan.
- Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) adalah pemain lama dalam proyek lingkungan dan energi bersih di dunia.
Jejak anak perusahaan ini sudah dikenal di Singapura untuk program Waste-to-Energy (WtE), yakni di Tuas South. Proyek senilai 750 juta dolar Singapura yang dikenal dengan TuasOne Waste-to-Energy Plant Project ini merupakan salah satu contoh bagi sejumlah tempat yang memulai program pengolahan sampah menjadi energi, termasuk Indonesia.
Di China, MHIECE mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai yang merupakan salah satu proyek WtE terbesar di dunia senilai 11 miliar yen. Di Shanghai, MHIECE mengolah 6.000 ton sampah setiap hari untuk 144 megawatt listrik.
Di Jepang, perusahaan ini menandatangani kontrak baru pada 2025 untuk peningkatan efisiensi energi listrik di pusat insinerasi limbah padat di kota kelahirannya, Kanazawa, dan Miyazaki. Di Kanazawa energi listrik yang dihasilkan dari sampah sebesar tiga MegaWatt (MW) dari 250 ton sampah per hari.
Sementara, Indonesia sudah menggunakan mesin pengolah sampah produk MHIECE berkapasitas 100 ton sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sejak 2019 bersama dengan PLN Nusantara Power. Energi listrik yang dihasilkan sebesar 750 kilowatt per jam untuk penerangan di sekitar tempat pembuangan.
Metode WtE yang dilakukan MHIECE di lebih dari 300 pabrik seluruh dunia adalah dengan mesin pembakaran atau insinerator tingkat tinggi yang mampu membakar lumpur limbah dengan berbagai berat.
(Febrina Ratna Iskana)