Meskipun omzet rata-rata berada di angka Rp40-50 juta per bulan, nilai utama bisnis ini terletak pada trickle down effect atau dampak berantai bagi masyarakat sekitar.
Kepala Bagian Administrasi Jasa Raharja Kanwil Utama Jawa Barat, Yudi Wiryawan menjelaskan bahwa program mentoring ini bertujuan untuk pemberdayaan ekonomi jangka panjang bagi keluarga yang kehilangan tulang punggungnya.
"Tujuan kami adalah pemberdayaan ekonomi. Banyak ahli waris yang kehilangan tulang punggung keluarga akibat kecelakaan. Melalui diklat dan pelatihan wirausaha ini, kami ingin ekonomi mereka tetap hidup dan memiliki sumber penghasilan baru," ujar Yudi.
Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S Adji, menegaskan bahwa keberhasilan UMKM tidak boleh hanya diukur dari angka penjualan, melainkan dari ekosistem ekonomi yang dihidupkannya.
“Penilaian terhadap UMKM tidak cukup hanya melihat omzet. Jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana pergerakan usaha tersebut menghidupkan ekosistem di sekitarnya. Di situlah makna ekonomi, dan di situlah jalan keberhasilan para pengusaha mikro dan ritel,” ujarnya.