Menurutnya, stimulus ekonomi terus didorong sebagai belanja fiskal yang efektif mengerek daya konsumsi masyarakat.
Di sisi global, Mari menyarankan Indonesia mesti melakukan diversifikasi pasar dari negara yang terkena ekses konflik. Jika kawasan Timur Tengah bergejolak terus tanpa kepastian, maka peralihan pasar bisa menyasar kawasan Eropa dan lainnya.
"Jangan lupa ASEAN, jangan lupa yang di depan mata kita, yaitu pasar di kawasan kita sendiri. ASEAN, punya perjanjian namanya RCEP yang ada China, Jepang, Korea, Australia, New Zealand. Ini semua bisa, sangat bisa kita juga manfaatkan untuk eh meningkatkan pasar kita," kata dia.
Namun yang terpenting, Mari menitikberatkan optimalisasi pasar dalam negeri. Penguatan pangsa pasar domestik semestinya mendatangkan profitabilitas bagi industri dan bakal memberikan efek ganda yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Dari penguatan ekonomi, nilai investasi bakal mengikuti.
"Amankan pasar dalam negeri maupun demand. Di dalam ketidakpastian, banyak yang mencari relokasi. Nah, di sinilah pentingnya PR dalam negeri kita juga untuk membuat Indonesia menarik untuk dunia investasi. Apakah itu untuk investasi portofolio, tapi yang penting juga untuk PMA. Karena itu akan menciptakan lapangan pekerjaan dan itu akan juga mendorong perekonomian," ujar Mari.