Pada sesi perdagangan Senin (2/3/2026) pagi, depresiasi rupiah tercatat mencapai 0,27 persen, membawanya ke level Rp16.823 per USD. Tren penurunan ini sebenarnya sejalan dengan nasib sebagian besar mata uang di kawasan Asia yang tertekan oleh keperkasaan dolar AS.
Seturut itu, perang yang kini berkecamuk berpotensi besar mengganggu stabilitas pasokan energi global, terutama setelah Iran menutup arus perdagangan di Selat Hormuz.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk suplai April 2026 berada pada level USD71,78 per barel atau naik 7,10 persen dibandingkan akhir pekan yang senilai USD67,02 per barel.
Pemerintah menyoroti tekanan fiskal jika terjadi inflasi harga.
(Dhera Arizona)