sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ekonomi RI 2026 Bisa Tumbuh 5,2 Persen di Tengah Ketidakpastian Global

Economics editor Desi Angriani
14/01/2026 13:44 WIB
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026 ditopang oleh penguatan permintaan domestik serta stabilitas makroekonomi yang terjaga
Ekonomi RI 2026 Bisa Tumbuh 5,2 Persen di Tengah Ketidakpastian Global (Foto: dok Freepik)
Ekonomi RI 2026 Bisa Tumbuh 5,2 Persen di Tengah Ketidakpastian Global (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - PT Insight Investments Management (IIM) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026 ditopang oleh penguatan permintaan domestik serta stabilitas makroekonomi yang terjaga.

Konsumsi rumah tangga, sebagai kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB), menunjukkan tren penguatan. Hal ini tercermin dari Consumer Confidence Index (CCI) yang terus meningkat. 

Pada November 2025, CCI tercatat di level 124, mengindikasikan optimisme dan kepercayaan masyarakat yang semakin membaik terhadap kondisi ekonomi.

“Pemulihan ekonomi domestik mulai terlihat lebih merata. Kepercayaan konsumen yang membaik, inflasi yang terkendali, serta dukungan kebijakan moneter dan fiskal menjadi kombinasi positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” kata Direktur PT IIM Camar Remoa dalam paparan Market Outlook 2026 dikutip Rabu (14/1/2026).                                            

Tren penurunan suku bunga, lanjutnya juga menjadi katalis tambahan yang mendorong konsumsi. Dengan biaya pinjaman yang lebih rendah, masyarakat diharapkan semakin terdorong untuk meningkatkan belanja.

Camar menambahkan, pemerintah turut memberikan stimulus melalui Economic Acceleration Package senilai Rp16 triliun, yang mulai berdampak positif terhadap pemulihan daya beli masyarakat pada paruh kedua 2025. 

Di sisi lain, inflasi tetap terkendali di bawah 3 persen, sejalan dengan target Bank Indonesia, mencerminkan efektivitas kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas harga.

Dari sisi fiskal, defisit anggaran diproyeksikan tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap PDB. Belanja pemerintah pada 2026 diperkirakan meningkat dengan fokus pada program prioritas nasional, termasuk sektor sosial, pangan, dan infrastruktur, serta keberlanjutan stimulus ekonomi.

Sementara itu, investasi sebagai kontributor terbesar kedua PDB juga diproyeksikan membaik, seiring dengan indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) yang konsisten berada di atas level ekspansif 50.

Secara global, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan masih stagnan di kisaran 3,2 persen sepanjang 2023 hingga 2026. Tekanan berasal dari beragam faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis iklim, hingga dampak lanjutan pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya mereda.

Camar menyebut, kebijakan tarif proteksionis AS justru meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi berdampak negatif terhadap perekonomian negara tersebut dalam jangka menengah.

“Kebijakan tarif Amerika Serikat yang bersifat proteksionis meningkatkan ketidakpastian global. Dampaknya terhadap aktivitas bisnis dan investasi baru akan semakin terasa ke depan,” tutur Camar.

Di sisi lain, negara berkembang (emerging markets) tetap menjadi motor utama pertumbuhan global. India mencatatkan laju pertumbuhan tertinggi, diikuti oleh China dan Indonesia yang menunjukkan kinerja relatif solid. 

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement