AALI
8750
ABBA
226
ABDA
6025
ABMM
4470
ACES
650
ACST
193
ACST-R
0
ADES
7150
ADHI
760
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3910
AGAR
296
AGII
2400
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
104
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
143
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1700
AKRA
1375
AKSI
328
ALDO
680
ALKA
286
ALMI
396
ALTO
178
Market Watch
Last updated : 2022/09/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.62
-0.34%
-1.81
IHSG
7112.45
-0.21%
-15.05
LQ45
1015.98
-0.41%
-4.21
HSI
17860.31
0.03%
+5.17
N225
26571.87
0.53%
+140.32
NYSE
13541.76
-0.29%
-38.64
Kurs
HKD/IDR 1,924
USD/IDR 15,125
Emas
792,028 / gram

FABA Dicoret dari Limbah B3, Awas Ada Mafia Limbah Batubara

ECONOMICS
Shelma Rachmahyanti
Rabu, 17 Maret 2021 00:16 WIB
Keputusan pemerintah yang menghapus limbah batubara jenis Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) menuai respons beragam.
FABA Dicoret dari Limbah B3, Awas Ada Mafia Limbah Batubara. (Foto: MNC Media)
FABA Dicoret dari Limbah B3, Awas Ada Mafia Limbah Batubara. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Keputusan pemerintah yang menghapus limbah batubara jenis Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) menuai respons beragam. Salah satu pengamat malah meminta aparat waspada akan kemunculan mafia yang memanfaatkan kebijakan ini.

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, mengungkapkan, perkembangan teknologi dapat memunculkan mafia FABA.

“Perkembangan teknologi itu kan maju sekali. Kita tidak bisa bertahan pada sebuah teknologi lama, misalnya batubara. Nah karena perkembangan teknologi dan dan sebagainya maka ternyata ada juga mafia FABA. Jadi mafia itu bukan hanya mafia BBM, mafia FABA pun ada,” ungkapnya dalam acara Polemik Trijaya secara virtual, Selasa (16/3/2021).

Pencabutan itu dilakukan beradasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mencabut FABA dari kategori Limbah B3. Sebelumnya, PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, FABA masih masuk kategori limbah B3.

“Semua tempat pengolahan limbah itu adanya di Pulau Jawa. Kalau PLTU-nya ada di Papua, ada di Sulawesi sana, kan harus dibawa ke Jawa. Itu ongkos angkutnya rata-rata Rp1,2 juta per ton. Dan itu uang banyak, kalau menimbun kan ada hukumannya. Nah itu semua kan lalu timbul mafia, kalau ditumpuk terus kan tinggi,” tambah dia.

Menurut dia, setelah melakukan pengecekan, FABA menjadi limbah karena berada di bawah ambang yang dipersyaratkan.

“Jadi saat itu hanya khusus untuk PLTU. Karena cost yang dikeluarkan PLTU itu menjadi apa? Kan dimasukkan ke tarif. Kalau masuk ke hitungan subsidi lalu masuk ke PDL yang kita bayar. Berapa jumlahnya enggak tahu saya, karena angka itu kan yang tahu PLN. Jadi artinya ini kerugiannya menjadi besar. Nah ini yang mengelola lebih sedikit, tapi sekarang adalah bagaimana mengoptimalkan itu,” ujar Agus.

Sementara itu, menurutnya, dahulu FABA dilarang karena jumlahnya yang besar sehingga sulit dikendalikan. Oleh karena itu FABA masuk dalam kategori B3. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD