Namun, skenario kenaikan jauh lebih kuat terlihat di mana emas dunia diprediksi mampu meloncat ke USD4.426 pada Senin pagi, yang akan mendorong harga logam mulia ke level Rp2.518.000.
Faktor utama yang menggerakkan pasar adalah rentetan peristiwa geopolitik luar biasa di awal tahun. Ibrahim menyoroti serangan drone ke kediaman resmi Putin yang memicu balasan masif Rusia ke Ukraina, serta ketegangan di Iran akibat intervensi Amerika Serikat terhadap demonstrasi besar-besaran di sana.
Namun, peristiwa yang paling mengejutkan adalah aksi militer Amerika Serikat di bawah perintah Donald Trump yang melakukan penyerangan ke Venezuela serta menangkap Presiden Maduro dan istrinya untuk dibawa ke Amerika Serikat.
"Geopolitik memang benar-benar membuat harga emas kemungkinan besar akan kembali melakukan kenaikan yang cukup signifikan," kata Ibrahim.
Langkah sepihak Trump tanpa persetujuan Kongres ini diprediksi akan menimbulkan mosi tidak percaya dan memanaskan situasi internal di Amerika Serikat.
Di sisi lain, kebijakan Bank Sentral Amerika yang kembali mengucurkan stimulus sebesar USD40 miliar per bulan untuk buyback obligasi turut memberikan tenaga bagi emas untuk terus menguat.