AALI
8825
ABBA
238
ABDA
6025
ABMM
4340
ACES
635
ACST
196
ACST-R
0
ADES
7400
ADHI
760
ADMF
8550
ADMG
167
ADRO
3880
AGAR
302
AGII
2350
AGRO
625
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
107
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
147
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1580
AKRA
1305
AKSI
320
ALDO
700
ALKA
290
ALMI
408
ALTO
172
Market Watch
Last updated : 2022/09/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.52
-1.18%
-6.39
IHSG
7090.99
-1.22%
-87.59
LQ45
1013.74
-1.16%
-11.90
HSI
17964.23
0.17%
+30.96
N225
26452.79
-2.58%
-701.04
NYSE
13796.99
-2.26%
-319.60
Kurs
HKD/IDR 1,914
USD/IDR 15,031
Emas
791,977 / gram

Harga Minyak Goreng Curah di Malang Tembus Rp20 Ribu Per Liter

ECONOMICS
Avirisda M/Kontributor
Rabu, 10 November 2021 14:07 WIB
Harga minyak goreng curah terus mengalami kenaikan, bahkan harganya di Kota Malang, Jawa Timur melonjak hingga tembus Rp20 ribu per liter.
Harga Minyak Goreng Curah di Malang Tembus Rp20 Ribu Per Liter. (Foto: MNC Media)
Harga Minyak Goreng Curah di Malang Tembus Rp20 Ribu Per Liter. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Harga minyak goreng curah terus mengalami kenaikan, bahkan harganya di Kota Malang, Jawa Timur melonjak hingga tembus Rp20 ribu per liter. Sejumlah pedagang pun mengeluhkan kenaikan minyak goreng tersebut.

Pantauan tim MNC Portal Indonesia di Pasar Besar Kota Malang sepanjang Rabu (10/11/2021), dari penuturan para pedagang dan pantauan di lapangan, kenaikan sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir ini.

Pedagang Pasar Besar, Nur Hasanah, mengungkapkan, kenaikan harga cukup signifikan dari sebelumnya Rp14 ribu menjadi Rp19 ribu per liter hanya untuk minyak goreng curah.

"Yang (minyak goreng) curah sebelumnya Rp14-15 ribu, sekarang Rp19 ribu, harga normalnya Rp14-15 ribu itu," kata Nur Hasanah, perempuan berusia 45 tahun saat ditemui MNC Portal.

Kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng kemasan, di lapak dagangan miliknya harga minyak goreng kemasan menembus Rp 18 ribu per liternya. "Yang kemasan juga naik, sekarang Rp18 ribu per liternya. Dari distributornya sudah mahal, kalau distributornya di Pakisaji," katanya.

Pedagang minyak goreng lainnya bernama Avi Riskia menuturkan, kenaikan minyak goreng sudah ia rasakan selama sebulan lebih terakhir ini. Bahkan di pekan-pekan terakhir ini angka kenaikan cukup signifikan diiringi dengan langkanya stok minyak goreng.

"Harga minyak gila-gilaan naiknya banyak sekali. Naiknya satu bulan ini, mulai satu bulan ini merangkak naik terus barangnya juga kosong," kata dia.

Perempuan berusia 42 tahun ini menjelaskan, harga minyak goreng curah di lapaknya mencapai Rp17 ribu per kilogramnya, sementara untuk minyak goreng kemasan dengan kemasan dua liter mencapai Rp35 ribu.

"Sekarang dua liter sudah Rp35 ribu, yang satu liter Rp17.500 ribu merk nggak terlalu terkenal. Kalau yang terkenal Sofia, Fortune mungkin Rp18 ribu. Kalau untuk Freesweel, kosong enggak terlalu ada, yang minyak curah normalnya Rp13 ribu, dari 13 ribu naik ke17 ribu," terang dia.

Kenaikan ini disebut secara bertahap dan tidak langsung, artinya kenaikan perlahan-lahan saat sekali ambil dari pihak distributor dan agen-agen besar.

"Harga normalnya Sekitar Rp14-15 ribu, itu saja sudah mahal untuk ukuran kemarin, tapi sekarang tiap hari naik terus, naik seribu, dua ribu, kadang malah naik Rp5 ribu satu kartonnya," paparnya.

Ia berharap agar pemerintah bisa melakukan tindakan cepat supaya harga-harga minyak goreng yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat bisa kembali turun, dan tidak membebani masyarakat. Apalagi menjelang perayaan natal dan tahun baru yang kemungkinan besar kenaikan harga terjadi.

"Pemerintah melakukan razia di pasar menurunkan harga, kayak gula kemarin ada dari pemerintah operasi pasar, kasihan rakyat kecil bisa membeli itu dengan harga murah. Kayaknya naik terus biasanya mau menjelang Natal tahun baru harga-harga naik nggak ada turun," jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan M. Sailendra mengakui bahwa pihaknya tak bisa berbuat banyak bahwa mengontrol harga minyak goreng. Mengingat kenaikan harga minyak goreng ini tidak hanya terjadi di Kota Malang saja, melainkan beberapa daerah lain di Indonesia.

"Seluruh daerah mengalami ini semua, tidak hanya di Malang saja. Kami koordinasi komunikasi Diskoperindag Provinsi Jawa Timur apa yang dilakukan.
Di level kami sebatas mendorong monitoring, tetapi pemerintah pusat yang menganalisa sampai sejauh mana memantau sampai di tingkat tertentu melakukan intervensi kebijakan," terang Sailendra. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD