AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Hati-hati Pilih Saham Properti di Tengah Euforia DP Nol Persen

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Senin, 01 Maret 2021 17:47 WIB
Kebijakan DP 0% ini akan membutuhkan waktu 3-6 bulan hingga terealisasi di pasar riil.
Hati-hati Pilih Saham Properti di Tengah Euforia DP Nol Persen (FOTO:MNC Media)
Hati-hati Pilih Saham Properti di Tengah Euforia DP Nol Persen (FOTO:MNC Media)

IDXChannel  - Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe menilai kebijakan uang muka atau down payment (DP) nol persen pada periode Maret hingga Desember 2021 masih belum memperbaiki kinerja saham emiten properti

"Sektor properti ini sudah terpukul sangat dalam, sudah lama dan belum bangkit. Mungkin saham emiten properti akan naik lebih dulu tetapi sebetulnya realitas di lapangan untuk DP 0% ini masih butuh waktu," ujarnya pada closing market IDX Channel, Senin (1/3/2021). 

Menurut dia, kebijakan DP 0% ini akan membutuhkan waktu 3-6 bulan hingga terealisasi di pasar riil. Dia mengimbau agar investor berhati-hati dan cermat dalam memilih saham emiten properti. 

"Memang akan ada euforia di masa awal setelah pengumuman. Saham properti ini murah sekali dan sudah terpukul cukup dalam," ungkapnya. 

Di sisi lain, pemerintah juga memberikan diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan bermotor pada segmen kendaraan dengan cc kurang dari 1.500 untuk kategori sedan dan 4x2 secara bertahap. Menurut dia, sektor otomotif akan lebih dulu dilirik konsumen dibandingkan properti. 

"Polanya nanti mobil dulu, setelah itu mobil, baru properti. Jadi properti mungkin kuartal ketiga atau keempat baru kelihatan geliat penjualannya. Perusahaan properti sudah turun cukup dalam dan ada sentimen spekulasi. Jadi rawan profit taking," ucap dia. (Sandy)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD