AALI
10850
ABBA
73
ABDA
6950
ABMM
745
ACES
1565
ACST
358
ACST-R
0
ADES
1680
ADHI
1320
ADMF
8450
ADMG
174
ADRO
1180
AGAR
418
AGII
1270
AGRO
1215
AGRO-R
0
AGRS
805
AHAP
61
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
302
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
492
AKRA
3400
AKSI
765
ALDO
440
ALKA
238
ALMI
250
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2021/03/05 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.51
-0.71%
-3.59
IHSG
6258.75
-0.51%
-32.05
LQ45
941.36
-0.75%
-7.11
HSI
29098.29
-0.47%
-138.50
N225
28864.32
-0.23%
-65.79
NYSE
14959.41
-1.58%
-239.78
Kurs
HKD/IDR 1,843
USD/IDR 14,300
Emas
778,890 / gram

INDEF: Diskon PPnBM Mobil Baru Sia-sia!

ECONOMICS
Ferdi Rantung/Sindonews
Selasa, 23 Februari 2021 14:41 WIB
Diskon PPnBM hingga nol persen dianggap sia-sia karena diberikan saat pandemi covid-19 dan penjualan mobil sedang meningkat.
INDEF: Diskon PPnBM Mobil Baru Sia-sia! (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Untuk mendorong konsumsi masyarakat menengah, mulai 1 Maret 2021 pemerintah memberikan diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mobil baru hingga nol persen. Namun, insentif tersebut dianggap sia-sia karena diberikan saat pandemi covid-19.

Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Program Institute fot Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti. Menurutnya, insentif PPnBM untuk pembelian baru akan sia-sia karena penjualan mobil pada dasarnya saat ini sedang meningkat sekitar 5%.

“Jadi tanpa ada tax insentif penjualan (mobil) sudah cukup tinggi. Kalau diberikan tax insentif ini menjadi sia-sia,” ungkap Esther dalam diskusi INDEF secara virtual, Selasa (23/2/2021).

Esther Sri Astuti menilai bahwa penjualan mobil tidak akan naik signifikan dengan adanya kebijakan tersebut.  Sebab, daya beli sedang menurun akibat pandemi.

"Karena di masa pandemi uang lagi susah,” katanya. 

Ia menuturkan, kebijakan itu menjadi sia - sia karena negara akan kehilangan penerimaan pajak. Apalagi, tax ratio di Indonesia masih sangat rendah.Ia mengatakan dengan adanya PPnBM negara akan kehilangan penerimaan pajak sekitar Rp 2,28 triliun 

"Tax ratio di Indonesia masih sekitar 9-10 persen berbanding jauh sekali dengan Malaysia Singapura yang tax ratio sudah mencapai 15 sampai 20 persen" terangnya

Tak hanya itu, ia menambahkan, kerugian lain dari kebijakan ini adalah akan menambah kemacetan dan juga polusi. Baik di Jakarta atau pun di daerah.

"Saya kira kebijakan ini akan memperparah kemacetan dan polusi. Karena produksi kendaraan bermotor di Indonesia masih menggunakan bahan bakar fosil. Seharusnya pemerintah sudah mendorong penggunaan kendaraan yang ramah lingkungan" tandasnya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Risiko Investasi Saham
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD